Whatever About This Blog

Keep Enjoy

18 August 2014

Perbedaan antara iPhone asli dan palsu atau imitasi



Apa persamaan antara iPhone yang asli dengan yang replika atau palsu? Sama-sama baru diketahui ketika sudah dibeli dan dibawa pulang ke rumah. 



Yep, sayangnya itulah yang sering terjadi.



Sekitar seminggu yang lalu, saya membeli iPhone 5s dengan harga 1,2 juta dari teman saya. Ya, memang betul itu adalah iPhone imitasi ataupun "super copy". itu seperti gambar yang diatas

saya membelinya karena teman saya sangat butuh uang waktu itu, kebetulan saya juga sedang mencari iPhone by Apple, tentunya yang original. karena dia sangat butuh uang tersebut akhirnya saya membeli iPhone teman saya dengan harga diatas. Awalnya saya heran kenapa iPhone ini bisa dibuat imitasinya, tapi setelah saya otak atik dirumah ternyata dari bentuk fisiknya memang sangat sulit untuk membedakan dengan yang asli, kecuali beratntya.
Dari systemnya pun sama, hanya saja pada saat membuka App Store, iPhone ini malah masuk ke Play Store, yang harusnya adalah untuk android. mungkin disitu ya bedanya antara iPhone asli dan imitasi.
berikut saya share beberapa perbedaan antara iPhone asli dan Palsu, cekidot
 


Membedakan mana iPhone yang asli dan mana yang imitasi/palsu sudah menjadi cukup sulit akhir-akhir ini berkat kualitasnya yang makin meningkat. Ciri-ciri atau tanda khas yang biasa ditemukan pada iPhone imitasi pada 2-3 tahun yang lalu bisa dibilang sudah menghilang dari iPhone imitasi keluaran terbaru. We’re fucked up.

Super copy, replika, clone, dll

Memang sih, tidak semua iPhone imitasi yang ada di pasaran itu sulit dibedakan. Beberapa ada yang memang dengan sengaja memasang tanda agar mudah dibedakan dengan yang asli. Misalnya teks atau logo Apple yang diganti dengan merk tersendiri (misalnya Goophone), warna yang bervariasi (misalnya mirip iPhone 4/4S tapi dengan casing merah, biru, dsb), atau dengan terang-terangan memasang tanda “Menjalankan Android” atau “Replica”. Tapi, ada juga produsen yang dengan sengaja membuat yang sangat mirip/identik dengan iPhone (sering disebut “super copy”) sehingga sulit dibedakan dengan yang asli dan membuat banyak orang yang tertipu. Ini yang berbahaya.
Nah, salah satu yang jadi masalah untuk mendeteksi barang imitasi tersebut adalah karena produsennya bukan cuma satu saja. Artinya, barang-barang imitasi (iPhone) tersebut tidak punya karakteristik khusus dari segi fisik yang bisa jadi penanda utama bahwa dia palsu. Maksud saya, bahkan dua buah iPhone imitasi atau replika atau “super copy” akan sedikit berbeda satu sama lainnya kalau keduanya dari produsen atau pabrik yang berbeda.
Kalau saya katakan, misalnya, “jangan beli iPhone yang di bagian belakang bodinya tidak tertulis IMEI dan Serial”, maka anjuran saya tersebut tidak akan berlaku untuk semua iPhone imitasi/replika yang ada di pasaran, karena ada juga iPhone imitasi yang tingkat kemiripannya sangat tinggi dan tercantum IMEI dan Serial Number di belakang bodinya. Kalau Anda berpatokan dengan anjuran saya tersebut tanpa memperhatikan tanda-tanda lainnya, bisa jadi Anda memang tidak jadi membeli iPhone imitasi kualitas rendah tersebut, tetapi justru membeli barang imitasi yang kualitas tinggi yang sudah dilengkapi IMEI dan Serial Number di belakang bodinya.
Jadi, yeah… memang tidak gampang. Bahkan saya menjadi tertantang untuk mencoba membedakannya sendiri.

Here we go

Oke, intronya sudah. Sekarang saya akan mencoba memberikan saran atau petunjuk-petunjuk kepada Anda agar Anda benar-benar membeli iPhone, bukan smartphone Android 2 jutaan.
Dan seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, beberapa ciri atau tanda khusus pada sebuah iPhone imitasi/replika belum tentu ada atau ditemukan pada iPhone imitasi lainnya. Beda barang belum tentu sama ciri-cirinya, tergantung kualitas dari iPhone imitasi tersebut. Oleh karena itu, saran atau petunjuk yang saya berikan bersifat universal dan tidak spesifik.
And…

1. Cek harga

Oh dear, ini sudah jelas. iPhone “asli” yang Anda pegang di toko-toko itu tidak akan dihargai murah kalau tidak ada apa-apanya. iPhone yang keterlaluan murahnya itu kalau bukan barang hilang, curian, pasti palsu (kalau box dan aksesorisnya lengkap). Harga adalah perbedaan paling nyata antara iPhone asli dan imitasi/replika.
Sebelum membeli iPhone, persiapkan budget Anda terlebih dahulu kemudian tentukan jenis iPhone apa yang sesuai dengan budget yang Anda miliki. Entah itu yang baru atau bekas, yang jelas Anda harus tentukan jenis iPhone yang akan Anda incar. Contoh, Anda punya budget yang cukup untuk membeli iPhone 4S baru. Itu artinya Anda sudah tahu sebelumnya berapa kisaran harga iPhone 4S di pasaran. Dengan begitu kalau suatu saat Anda ke toko atau pusat pertokoan dan ditawari iPhone 4S dengan harga yang jauh lebih murah dari dana yang sudah Anda siapkan (misalnya Anda siapkan uang 4 juta tapi ada yang menawarkan sebuah iPhone 4S baru dengan harga 2 juta saja), abaikan saja karena kemungkinan besar itu bukan iPhone 4S buatan Apple yang Anda cari. Begitupun juga kalau dengan dana 4 juta tapi Anda malah ditawari iPhone 5s oleh seorang penjual, hehehe… gila, skip aja deh. Better safe than sorry

2. Cek fisik

(Sayangnya cara ini tidak berlaku buat Anda yang membeli secara online)
Box/dus
Semua produk Apple dibuat dengan bahan yang berkualitas tinggi, bahkan boxnya juga. Bahan, sudut-sudut dan lipatannya tidak ada cacatnya. Warnanya putih bersih dan gambar atau logo pada box iPhone itu semua tercetak rapi. Kalau dipegang halus dan tebal. Plus, isinya dilengkapi dengan kabel data/ kepala charger, earphone, manual/panduan singkat (Quick Start Guide), sebuah SIM card pin untuk mengeluarkan kartu SIM, dan dua buah stiker berlogo Apple.

Tapi perlu dicatat, bisa jadi ada box asli yang di dalamnya diisi dengan barang yang tidak asli.
Pada sisi box bagian bawah juga biasanya ada barcode atau IMEI dan Serial Number serta informasi lainnya. Selain itu, teks “Designed by Apple in California Assembled in China” juga ada! Ini sebenarnya penting, tapi jangan terlalu patokan sama ini. Semua yang ditulis di situ gampang dipalsukan.
iPhone
Kalau Anda belum pernah memegang iPhone sama sekali, ini bisa jadi cukup sulit. Tapi, bobot iPhone sedikit lebih berat dibanding smartphone lain pada umumnya dengan ukuran yang sama. Ini karena iPhone asli tentunya menggunakan bahan berkualitas tinggi. Misalnya metal dan kaca (tapi bukan kaca yang sama dengan kaca jendela Anda) untuk iPhone 4/4S, dan aluminium dan kaca (bagian atas dekat kamera) untuk iPhone 5/5s.

Selain itu yang perlu diperhatikan dari segi fisik adalah:
  • Casing belakang iPhone tidak bisa dibuka/pasang dengan mudah.
  • Baterai iPhone tidak bisa dilepas/pasang.
  • Kartu SIM dipasang dari samping bodi, bukan di belakang baterai atau casing belakang.
  • Tidak memiliki memori/SD card.
  • Tidak punya stylus.
  • Tidak punya antena ekternal untuk nonton TV.
  • Bagian belakang iPhone tidak tertulis kapasitas penyimpanan (mis. 16GB, 32GB atau 64GB).
  • Tertulis jelas “Designed by Apple in California Assembled in China”.
  • Sekrup yang ada pada bodi iPhone menggunakan sekrup pentalobe, bukan sekrup plus (+) biasa.

3. Cek software

Tampilan iOS 6 (kiri) dan iOS 7 (kanan)
Tampilan iOS 6 (kiri) dan iOS 7 (kanan).
Ya, sangat disarankan untuk memeriksa kondisi softwarenya juga. Oleh karena itu sebaiknya Anda jangan pernah membeli iPhone yang dalam kondisi mati atau tidak bisa dinyalakan.
Sekali lagi, kalau Anda belum pernah memegang iPhone sama sekali, ini bisa jadi tantangan karena Anda tidak punya pembandingnya. Sebenarnya seandainya Anda pernah minimal menggunakan iPhone punya teman/saudara Anda sekali-dua kali, Anda sudah bisa meneliti sendiri apakah iPhone itu palsu berdasarkan beberapa detail yang ada. Misalnya, gambar yang tajam dan tampilan yang jernih, resolusi yang tinggi, font yang halus, layar sentuh responsif, dan lain-lain sebagainya. Tapi kalau memang belum pernah pegang iPhone sebelumnya, bisa dimaklumi kalau Anda tidak menyadari perbedaan-perbedaan itu.
iPhone imitasi kualitas rendah (aka wannabe setengah-setengah) itu biasanya masih menjalankan Java sebagai firmware/sistem operasinya, tapi yang kualitas tinggi sudah menjalankan Android dan bisa sangat mirip dengan iOS (software untuk iPhone/iPad/iPod touch). Kemiripannya bisa menipu, tapi ada beberapa fitur spesifik yang bisa dijadikan tanda kalau itu Android atau iOS.
  1. Bahasa bawaan iPhone adalah bahasa Inggris, kecuali sudah diubah ke Indonesia pada saat aktivasi atau sebelum diperagakan ke calon pembeli.
  2. Cari ikon “App Store” dan buka.
  3. App Store
    App Store pada iOS 6 (kiri) dan iOS 7 (kanan).
    Kalau dibuka dan benar-benar yang muncul adalah App Store (toko aplikasi Apple) maka itu asli, iOS. Tapi kalau yang muncul adalah Play Store, waduh, sepertinya “iPhone” yang Anda pegang itu Android.
    Awas, jangan sampai tertipu…
    iPhone clone

    Anda juga harus curiga kalau “App Store” yang terbuka memiliki teks Cina padahal bahasa tulisannya sudah diatur ke Inggris/Indonesia.
  4. iPhone punya Bluetooth, tapi tidak bisa digunakan untuk mengirim file (foto, musik, dll).
  5. Jadi, kalau misalnya iPhone yang sedang Anda teliti ini Anda pakai untuk foto selfie dan kemudian fotonya bisa dikirim ke BlackBerry Anda (misalnya) melalui Bluetooth, bisa dipastikan itu adalah iPhone imitasi.
  6. iPhone 4S dan yang tebaru punya Siri yang bisa diakses dengan menekan lama tombol Home.
Sebenarnya masih ada beberapa hal lain yang bisa pembeda asli/tidaknya sebuah iPhone. Tetapi seperti yang sudah saya terangkan di atas, iPhone imitasi/replika keluaran terbaru sudah sangat mirip dengan aslinya, dan biasanya dijuluki “super copy” atau “super clone”. Antara iPhone yang asli dan imitasi menjadi kabur dan sangat sulit dibedakan oleh orang awam. (Kecuali, iPhonenya sudah dibawa pulang maka biasanya Anda secara tiba-tiba punya indra ke-6 yang bisa mengtahui hal ini)
Kalau dirasa tips saya sangat sederhana dan Anda yang baca ini kebetulan pernah punya pengalaman atau pegang langsung iPhone imitasi, silakan ditambahkan tipsnya
Catatan
Mungkin ada bertanya kenapa tidak ada “colokkan ke iTunes” pada daftar di atas. Ya, saya tahu, itu saran yang bagus tapi opsional menurut saya. Tidak praktis. Tidak semua tempat yang akan didatangi oleh si calon pembeli punya komputer di atas meja etalasenya, dan saya juga tidak akan menyuruh si calon pembeli untuk membawa laptop ke toko hanya untuk memeriksa apakah iPhonenya asli atau imitasi.
Skenario yang jadi acuan saya adalah, calon pembeli datang ke sebuah toko, cari iPhone, dan si penjaga/pemilik toko akan menawarkan sebuah iPhone. Pada tahap ini si calon pembeli (seharusnya) memeriksa kondisi iPhone terlebih dahulu. Nah pada proses pemeriksaan inilah ketiga tips yang saya tulis di atas bisa dijadikan patokan oleh si calon pembeli. Setelah yakin 100% asli, bayar, selesai. Tidak perlu repot-repot cari komputer.
Begitu juga kalau Anda yang ditawarkan langsung tanpa harus pergi ke toko. Apakah itu di kantor, di warung, rumah teman atau di manapun itu, Anda tetap bisa memeriksanya dengan ketiga tips di atas, bahkan tanpa komputer/iTunes.
Oh ya, last but not least, tidak semua penjual menyembunyikan fakta bahwa “iPhone” yang dia jual atau yang dia tawarkan kepada Anda itu palsu/imitasi/replika. Ada juga yang terang-terangan “kami menjual iPhone replika”, yang memang ditawarkan atau ditujukan pada orang yang cuma mau gaya-gayaan saja. Tapi tetap saja, semirip apapun dengan aslinya (plus murah tentunya), jangan mau membeli yang imitasi ini karena tujuan Anda adalah untuk mendapatkan yang asli; iPhone by Apple.
Yang paling aman adalah, ajak teman Anda yang sudah berpengalaman saat ingin membeli iPhone. Orang yang berpengalaman bisa langsung tahu sebuah iPhone asli/palsu hanya dengan memegangnya.

Rencana Kegiatan Setelah PSU AMIKOM 12-16 Agustus 2014

Planning setelah ikut PSU AMIKOM 12-16 Agustus Kemarin, semoga terkabul dan bermanfaat. aamiin





11 April 2014

Gus Dur Kaulah Pahlawan dan Teladanku

Oyasumi minna. . .
Kali ini saya mau share sedikit tentang perjuangan Gus Dur dalam mencegah perpecahan di bangsa ini setelah revolusi



Muslimedianews ~ Di akhir tahun 1998 Gus Dur rawuh (datang) di Wonoi orang Wonosobo. Saat itu sedang ramainya era reformasi, beberapa bulan setelah Pak Harto jatuh. Dan ini terjadi beberapa bulan sebelum Gus Dur menjadi orang nomer satu di Negeri ini. Beliau masih menjabat sebagai Ketua PBNU.

Bertempat di Gedung PCNU Wonosobo, Gus Dur mengadakan pertemuan dengan pengurus NU dari Wonosobo, Banjarnegara, Pubalingga, Kebumen, Temanggung dan Magelang.
Tentu saja semua kiai ingin tahu pendapat Gus Dur tentang situasi politik terbaru. Penulis hadir di situ walaupun bukan kiai, dan duduk persis di depan Gus Dur. Penulis lah yang menuntun Gus Dur menaiki Lantai 2 PCNU Wonosobo.

“Pripun Gus situasi politik terbaru?” tanya seorang kiai.

“Orde Baru tumbang, tapi Negeri ini sakit keras.” kata Gus Dur.

“Kok bisa Gus?”

“Ya bisa, wong yang menumbangkan Orde Baru pakainya emosi dan ambisi tanpa perencanaan yang jelas. Setelah tumbang mereka bingung mau apa, sehingga arah reformasi gak genah. Bahkan Negeri ini di ambang kehancuran, di ambang perang saudara. Arah politik Negeri ini sedang menggiring Negeri ini ke pinggir jurang kehancuran dan separatisme. Lihat saja, baru berapa bulan Orde Reformasi berjalan, kita sudah kehilangan propinsi ke-27 kita, yaitu Timor Timur.” kata Gus Dur.

Kiai tersebut sebagaimana biasa, kalau belum mulai bicara. Pak Habibi, kita semua akan merasa kasihan dengan sikap Gus Dur yang datar dan seperti capek sekali dan seperti aras-arasen bicara. Tapi kalau sudah mulai, luar biasa memikat dan ruangan jadi sepi kayak kuburan, tak ada bunyi apapun selain pangendikan Gus Dur.

Seorang kiai penasaran dengan calon presiden devinitif pengganti Pak Habibi yang hanya menjabat sementara sampai sidang MPR. Ia bertanya: “Gus, terus siapa yang paling pas jadi Presiden nanti Gus?”

“Ya saya, hehehe…” kata Gus Dur datar.

Semua orang kaget dan menyangka Gus Dur guyon seperti biasanya yang memang suka guyon.

“Yang bisa jadi presiden di masa seperti ini ya hanya saya kalau Indonesia gak pingin hancur. Dan saya sudah dikabari kalau-kalau saya mau jadi presidan walau sebentar hehehe...” kata Gus Dur mantab.

“Siapa yang ngabari dan yang nyuruh Gus?” tanya seorang kiai.

“Gak usah tahu. Orang NU tugasnya yakin saja bahwa nanti presidennya pasti dari NU,” kata Gus Dur masih datar seperti guyon.

Orang yang hadir di ruangan itu bingung antara yakin dan tidak yakin mengingat kondisi fisik Gus Dur yang demikian. Ditambah lagi masih ada stok orang yang secara fisik lebih sehat dan berambisi jadi presiden, yaitu Amin Rais dan Megawati. Tapi tidak ada yang berani mengejar pertanyaan tentang presiden RI.

Kemudian Gus Dur menyambung: “Indonesia dalam masa menuju kehancuran. Separatisme sangat membahayakan. Bukan separatismenya yang membahayakan, tapi yang memback up di belakangnya. Negara-negara Barat ingin Indonesia hancur menjadi Indonesia Serikat, maka mereka melatih para pemberontak, membiayai untuk kemudian meminta merdeka seperti Timor Timur yang dimotori Australia.”

Sejenak sang Kiai tertegun. Dan sambil membenarkan letak kacamatanya ia melanjutkan: “Tidak ada orang kita yang sadar bahaya ini. Mereka hanya pada ingin menguasai Negeri ini saja tanpa perduli apakah Negeri ini cerai-berai atau tidak. Maka saya harus jadi presiden, agar bisa memutus mata rantai konspirasi pecah-belah Indonesia. Saya tahu betul mata rantai konspirasi itu. RMS dibantu berapa Negara, Irian Barat siapa yang back up, GAM siapa yang ngojok-ojoki, dan saya dengar beberapa propinsi sudah siap mengajukan memorandum. Ini sangat berbahaya.”

Kemudiaan ia menarik nafas panjang dan melanjutkan: “Saya mau jadi presiden. Tetapi peran saya bukan sebagai pemadam api. Saya akan jadi pencegah kebakaran dan bukan pemadam kebakaran. Kalau saya jadi pemadam setelah api membakar Negeri ini, maka pasti sudah banyak korban. Akan makin sulit. Tapi kalau jadi pencegah kebakaran, hampir pasti gak akan ada orang yang menghargainya. Maka, mungkin kalaupun jadi presiden saya gak akan lama, karena mereka akan salah memahami langakah saya.”

Seakan mengerti raut wajah bingung para kiai yang menyimak, Gus Dur pun kembali selorohkan pemikirannya. “Jelasnya begini, tak kasih gambaran,” kata Gus Dur menegaskan setelah melihat semua hadirin tidak mudeng dan agak bingung dengan tamsil Gus Dur.

“Begini, suara langit mengatakan bahwa sebuah rumah akan terbakar. Ada dua pilihan, kalau mau jadi pahlawan maka biarkan rumah ini terbakar dulu lalu datang membawa pemadam. Maka semua orang akan menganggap kita pahlawan. Tapi sayang sudah terlanjur gosong dan mungkin banyak yang mati, juga rumahnya sudah jadi jelek. Kita jadi pahlawan pemyelamat yang dielu-elukan.”

Kemudian lanjutnya: “Kedua, preventif. Suara langit sama, rumah itu mau terbakar. Penyebabnya tentu saja api. Ndilalah jam sekian akan ada orang naruh jerigen bensin di sebuah tempat. Ndilalah angin membawa sampah dan ranggas ke tempat itu. Ndilallah pada jam tertentu akan ada orang lewat situ. Ndilalah dia rokoknya habis pas dekat rumah itu. Ndilalalah dia tangan kanannya yang lega. Terus membuang puntung rokok ke arah kanan dimana ada tumpukan sampah kering.”

Lalu ia sedikit memajukan duduknya, sambil menukas: “Lalu ceritanya kalau dirangkai jadi begini; ada orang lewat dekat rumah, lalu membuang puntung rokok, puntung rokok kena angin sehingga menyalakan sampah kering, api di sampah kering membesar lalu menyambar jerigen bensin yang baru tadi ditaruh di situ dan terbakarlah rumah itu.”

“Suara langit ini hampir bisa dibilang pasti, tapi semua ada sebab-musabab. Kalau sebab di cegah maka musabab tidak akan terjadi. Kalau seseorang melihat rumah terbakar lalu ambil ember dan air lalu disiram sehingga tidak meluas maka dia akan jadi pahlawan. Tapi kalau seorang yang waskito, yang tahu akan sebab-musabab, dia akan menghadang orang yang mau menaruh jerigen bensin, atau menghadang orang yang merokok agar tidak lewat situ, atau gak buang puntung rokok di situ sehingga sababun kebakaran tidak terjadi.”

Sejenak semua jamaah mangguk-mangguk. Kemudian Gus Dur melanjutkan: “Tapi nanti yang terjadi adalah, orang yang membawa jerigen akan marah ketika kita cegah dia naruh jerigen bensin di situ: “Apa urusan kamu, ini rumahku, bebas dong aku naruh di mana?” Pasti itu yang akan dikatakan orang itu.”

“Lalu misal ia memilih menghadang orang yang mau buang puntung rokok agar gak usah lewat situ, Kita bilang: “Mas, tolong jangan lewat sini dan jangan merokok. Karena nanti Panjenengan akan menjadi penyebab kebakaran rumah itu.” Apa kata dia: “Dasar orang gila, apa hubungannya aku merokok dengan rumah terbakar? Lagian mana rumah terbakar?! Ada-ada saja orang gila ini. Minggir! saya mau lewat.”

Kini makin jelas arah pembicaraannya dan semua yang hadir makin khusyuk menyimak. “Nah, ini peran yang harus diambil NU saat ini. Suara langit sudah jelas, Negeri ini atau rumah ini akan terbakar dan harus dicegah penyebabnya. Tapi resikonya kita tidak akan popular, tapi rumah itu selamat. Tak ada selain NU yang berpikir ke sana. Mereka lebih memilih: “Biar saja rumah terbakar asal aku jadi penguasanya, biar rumah besar itu tinggal sedikit asal nanti aku jadi pahlawan maka masyarakat akan memilihku jadi presiden.”

“Poro Kiai ingkang kinormatan.” kata Gus Dur kemudian. “Kita yang akan jadi presiden, itu kata suara langit. Kita gak usah mikir bagaimana caranya. Percaya saja, titik. Dan tugas kita adalah mencegah orang buang puntung rokok dan mencegah orang yang kan menaruh bensin. Padahal itu banyak sekali dan ada di banyak negara. Dan pekerjaan itu secara dzahir sangat tidak popular, seperti ndingini kerso. Tapi harus kita ambil. Waktu yang singkat dalam masa itu nanti, kita gak akan ngurusi dalam Negeri.”

“Kita harus memutus mata rantai pemberontakan Gerakan Aceh Merdeka di Swiss, kita harus temui Hasan Tiro. Tak cukup Hasan Tiro, presiden dan pimpinan-pimpinan negara yang simpati padanya harus didekati. Butuh waktu lama,” lanjut Gus Dur.

“Belum lagi separatis RMS (Republik Maluku Sarani) yang bermarkas di Belanda, harus ada loby ke negara itu agar tak mendukung RMS. Juga negara lain yang punya kepentingan di Maluku,” kata Gus Dur kemudian.

“Juga separatis Irian Barat Papua Merdeka, yang saya tahu binaan Amerika. Saya tahu anggota senat yang jadi penyokong Papua Merdeka, mereka membiayai gerakan separatis itu. Asal tahu saja, yang menyerang warga Amerika dan Australia di sana adalah desain mereka sendiri.”

Kemudian Gus Dur menarik nafas berat, sebelum melanjutkan perkataan berikutnya. “Ini yang paling sulit, karena pusatnya di Israel. Maka, selain Amerika saya harus masuk Israel juga. Padahal waktu saya sangat singkat. Jadi mohon para kiai dan santri banyak istighatsah nanti agar tugas kita ini bisa tercapai. Jangan tangisi apapun yang terjadi nanti, karena kita memilih jadi pencegah yang tidak populer. Yang dalam Negeri akan diantemi sana-sini.”

Sekonyong beliau berdiri, lalu menegaskan perkataan terakhirnya: “NKRI bagi NU adalah Harga Mati!”

“Saya harus pamit karena saya ditunggu pertemuan dengan para pendeta di Jakarta, untuk membicarakan masa depan negara ini. Wasalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...” tutup Gus Dur.

Tanpa memperpanjang dialog, Gus Dur langsung pamit. Kita bubar dengan benak yang campur-aduk, antara percaya dan tidak percaya dengan visi Gus Dur. Antara realitas dan idealitas, bahwa Gus Dur dengan sangat tegas di hadapan banyak kiai bahwa dialah yang akan jadi presiden. Terngiang-ngiang di telinga kami dengan seribu tanda tanya.

Menghitung peta politik, rasanya gak mungkin. Yang terkuat saat itu adalah PDIP yang punya calon mencorong Megawati putri presiden pertama RI yang menemukan momentnya. Kedua, masih ada Partai Golkar yang juga Akbar Tanjung siap jadi presiden. Di kelompok Islam modern ada Amien Rais yang juga layak jadi presiden, dan dia dianggap sebagian orang sebagai pelopor Reformasi.

Maka kami hanya berpikir bahwa, rasional gak rasional, percoyo gak percoyo ya percoyo aja apa yang disampaikan Gus Dur tadi. Juga tentang tamsil rumah tebakar tadi. Sebagian besar hadirin agak bingung walau mantuk-mantuk karena gak melihat korelasinya NU dengan jaringan luar negeri.

Sekitar 3 bulan kemudian, Subhanallah… safari ke luar ternyata Gus Dur benar-benar jadi Presiden. Dan Gus Dur juga benar-benar bersafari ke luar negeri seakan maniak plesiran. Semua negara yang disebutkan di PCNU Wonosobo itu benar-benar dikunjungi. Dan reaksi dalam negeri juga persis dugaan Gus Dur saat itu bahwa Gus Dur dianggap foya-foya, menghamburkan duit negara untuk plesiran. Yang dalam jangka waktu beberapa bulan sampai 170 kali lawatan. Luar biasa dengan fisik yang (maaf) begitu, demi untuk sebuah keutuhan NKRI.

Pernah suatu ketika Gus Dur lawatan ke Paris (kalau kami tahu maksudnya kenapa ke Paris). Dalam negeri, para pengamat politik dan politikus mengatakan kalau Gus Dur memakai aji mumpung. Mumpung jadi presiden pelesiran menikmati tempat-tempat indah dunia dengan fasilitas negara.

Apa jawab Gus Dur: “Biar saja, wong namanya wong ora mudeng atau ora seneng. Bagaimana bisa dibilang plesiran wong di Paris dan di Jakarta sama saja, gelap gak lihat apa-apa, koq dibilang plesiran. Biar saja, gitu aja koq repot!”

Masih sangat teringat bahwa pengamat politik yang paling miring mengomentrai lawatan Gus Dur sampai masa Gus Dur lengser adalah Alfian Andi Malarangeng, Menpora yang sekarang kena kasus. Tentu warga NU gak akan lupa sakit hatinya mendengar ulasan dia. Sekarang terimalah balasan dari Tuhan.

Satu-satunya pengamat politik yang fair melihat sikap Gus Dur, ini sekaligus sebagai apresiasi kami warga NU, adalah Hermawan Sulistyo, atau sering dipanggil Mas Kiki. terimakasih Mas Kiki.

Kembali ke topik. Ternyata orang yang paling mengenal sepak terjang Gus Dur adalah justru dari luar Islam sendiri. Kristen, Tionghoa, Hindu, Budha dll. mereka tahu apa yang akan dilakukan Gus Dur untuk NKRI ini. Negeri ini tetap utuh minus Timor Timur karena jasa Gus Dur. Beliau tanpa memikirkan kesehatan diri, tanpa memikirkan popularitas, berkejaran dengan sang waktu untuk mencegah kebakaran rumah besar Indonesia.

Dengan resiko dimusuhi dalam negeri, dihujat oleh separatis Islam dan golongan Islam lainnya, Gus Dur tidak perduli apapun demi NKRI tetap utuh. Diturunkan dari kursi presiden juga gak masalah bagi beliau walau dengan tuduhan yang dibuat-buat. Silakan dikroscek data ini. Lihat kembali keadaan beberapa tahun silam era reformasi baru berjalan, beliau sama sekali gak butuh gelar “Pahlawan”. Karena bagi seluruh warga NU “Beliau adalah Pahlawan yang sesungguhnya.”